carguyshub – Amerika Serikat dan Jepang disebut menyepakati rencana untuk menenggelamkan kapal induk Fujian milik China jika perang pecah di Selat Taiwan. Informasi itu diberitakan media Jepang Sankei Shimbun yang mengutip sumber senior di pemerintahan Tokyo.
Laporan tersebut menyebut Jepang akan bekerja sama dengan Angkatan Laut AS untuk menghancurkan Fujian bila kapal induk itu mencoba menghadang intervensi AS di Taiwan. Ini menjadi pertama kalinya media Jepang secara terbuka menyebut Fujian sebagai target serangan dalam kemungkinan konflik regional.
Ketegangan kedua negara meningkat setelah pernyataan PM Jepang Sanae Takaichi yang menyebut invasi China ke Taiwan mengancam kelangsungan hidup Jepang. Pernyataan itu mengacu pada hak bela diri kolektif berdasarkan undang-undang keamanan 2015.
China menganggap pernyataan itu sebagai provokasi besar dan melayangkan respons keras. Beijing menghubungi PBB, menyampaikan protes kepada Presiden AS Donald Trump, dan menghentikan beberapa impor dari Jepang, termasuk produk laut.
BACA JUGA : “Prajurit Yonif 511 Kunjungi Gereja Perkuat Komsos”
Juru bicara Kementerian Pertahanan China, Jiang Bin, menilai ancaman AS dan Jepang sebagai fantasi. Ia menegaskan, Fujian bukan kapal perang Chih Yuen yang tenggelam dalam Perang China–Jepang lebih dari satu abad lalu. Jiang memperingatkan bahwa pihak yang menantang kepentingan inti China akan menerima akibat besar.
Pernyataan itu menunjukkan sikap keras China di tengah meningkatnya dinamika keamanan di kawasan Indo-Pasifik. Ancaman dan respons kedua kubu juga memperlihatkan meningkatnya risiko konflik berskala besar, terutama jika ketegangan di Selat Taiwan semakin memburuk.
Kekuatan Kapal Induk China Memicu Kekhawatiran Tokyo
Media Jepang menyoroti meningkatnya ancaman yang ditimbulkan oleh kemampuan Angkatan Laut China. Mereka menilai, perkembangan armada Beijing berlangsung cepat dan mulai menyaingi Amerika Serikat. China kini mengoperasikan tiga kapal induk yang memungkinkan satu kapal siaga setiap waktu.
Sebuah kapal induk China kini dilengkapi sistem ketapel elektromagnetik yang sebelumnya hanya dimiliki kapal induk Amerika Serikat. Teknologi ini memungkinkan pesawat tempur membawa senjata lebih berat saat lepas landas.
BACA JUGA : “Dejan/Bernadine Lolos ke Final Syed Modi 2025”
Media Jepang menilai, keberadaan pesawat peringatan dini atau “radar terbang” pada kapal induk China memperluas jangkauan operasi tempurnya. Armada pendamping seperti kapal perusak juga meningkatkan kemampuan tempur kelompok tersebut di wilayah Asia-Pasifik.
Selat Taiwan Jadi Titik Panas Baru di Asia Timur
Jepang melihat potensi konflik di Taiwan sebagai ancaman langsung bagi keamanannya. Taiwan hanya berjarak 110 kilometer dari Pulau Yonaguni dan 170 kilometer dari Kepulauan Senkaku. Beijing mengklaim wilayah laut di sekitar area tersebut, sehingga risiko gesekan meningkat.
Jika konflik terjadi, kapal induk Fujian berpotensi menguasai udara dan memberlakukan blokade laut di Selat Taiwan. Armada China mampu mencegat pesawat Amerika Serikat atau Jepang di perairan terbuka.
China telah menguji coba Fujian di Selat Taiwan pada September lalu, dan Jepang memantau pergerakan kapal tersebut secara intensif. Fujian resmi dioperasikan pada 5 November, menjadikan China satu dari dua negara di dunia yang memiliki kapal induk dengan sistem EMALS.
Tokyo menilai, menjaga Taiwan tetap aman merupakan bagian penting dari pertahanan nasionalnya. Setiap serangan besar China hampir pasti melibatkan wilayah dekat Jepang, sehingga risiko bentrokan meningkat.




Leave a Reply