carguyshub – Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Sukamta, meminta pemerintah meningkatkan peran diplomasi Indonesia dalam proses perdamaian Sudan. Dorongan ini muncul setelah Pemerintah Sudan membuka peluang mediasi yang lebih luas. Mereka mengusulkan keterlibatan Turki dan Qatar sebagai mediator tambahan dalam negosiasi antara Tentara Sudan dan Rapid Support Forces (RSF).
Menurut Sukamta, Indonesia memiliki modal diplomasi yang kuat untuk membantu penyelesaian konflik tersebut. Ia menyebut Indonesia memiliki rekam jejak baik dalam penyelesaian konflik damai. Selain itu, Indonesia juga memiliki hubungan positif dengan banyak negara di kawasan Timur Tengah dan Afrika. Karena itu, kontribusi Indonesia dinilai dapat mempercepat proses dialog.
“Indonesia dikenal berpengalaman dalam diplomasi internasional dan selalu mendukung penyelesaian damai,” kata Sukamta, Jumat (7/11/2025). Ia menegaskan bahwa peran aktif Indonesia bisa mendorong gencatan senjata dan menciptakan dialog yang adil.
Sebelumnya, Duta Besar Sudan untuk Indonesia, Dr. Yassir Mohamed Ali, juga menyampaikan dukungan terhadap mediasi yang lebih inklusif. Ia menjelaskan bahwa Sudan ingin melibatkan negara-negara dengan kapasitas diplomasi konstruktif, termasuk Turki dan Qatar. Pernyataan itu ia sampaikan dalam pertemuan di Jakarta, Kamis (5/11).
BACA JUGA : “Sopir Truk Bali Tewas Gantung Diri, Tinggalkan Pesan untuk Anak”
Dengan kondisi konflik yang terus berlangsung, Sukamta berharap Indonesia mengambil peran strategis. Menurutnya, langkah ini selaras dengan prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif. Selain itu, peran tersebut juga mendukung misi kemanusiaan serta stabilitas kawasan.
Krisis Kemanusiaan Sudan Memburuk
Konflik antara militer Sudan dan RSF yang pecah sejak April 2023 terus memicu krisis kemanusiaan besar. Lebih dari 150.000 orang dilaporkan tewas akibat kekerasan berkepanjangan. Selain itu, sekitar 14 juta warga terpaksa mengungsi, sementara 24 juta lainnya menghadapi kelaparan ekstrem. Kondisi tersebut menjadikan konflik Sudan sebagai salah satu tragedi paling buruk di abad ke-21.
Selain itu, citra satelit Universitas Yale mengungkap dugaan 31 lokasi pembantaian massal di Al-Fashir. Temuan itu menunjukkan genangan darah di sekitar universitas, rumah sakit, dan markas militer. Tak hanya itu, RSF juga melakukan serangan udara di Kordofan Utara pada Senin (3/11) yang menewaskan sedikitnya 43 orang dan melukai 37 warga.
Melihat situasi yang terus memburuk, Sukamta menegaskan bahwa upaya mediasi Indonesia sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif. Ia menyebut amanat Pembukaan UUD 1945 sebagai dasar moral Indonesia dalam ikut menjaga perdamaian dunia. Karena itu, ia meminta Kementerian Luar Negeri memperkuat diplomasi bilateral dan memaksimalkan peran Indonesia di berbagai forum internasional.
BACA JUGA : “Roy Suryo Tersangka Sudah Tepat, Hormati Proses Hukum”
Indonesia Diminta Dorong Mediasi Global
Untuk memperkuat proses perdamaian, Sukamta mendorong pemerintah memanfaatkan forum seperti PBB, OKI, dan ASEAN Plus Framework. Dengan pengalaman diplomasi yang panjang, Indonesia dinilai mampu menjadi jembatan dialog bagi pihak yang berkonflik. Ia mengingatkan bahwa proses mediasi harus inklusif serta tetap menghormati hak rakyat Sudan.
Di sisi lain, penyelesaian konflik perlu dipercepat karena dampak kemanusiaan terus bertambah. Laporan PBB menyebut jutaan orang kehilangan tempat tinggal, sementara akses bantuan terhambat akibat situasi keamanan yang tidak stabil. Menurutnya, perlindungan warga sipil harus menjadi prioritas utama.
Sukamta juga meminta agar jalur kemanusiaan segera dibuka agar bantuan internasional dapat masuk tanpa hambatan. Selain itu, penghentian kekerasan dinilai sangat mendesak untuk mencegah bertambahnya korban. Ia menutup pernyataannya dengan ajakan memperkuat solidaritas global dan menegaskan bahwa Indonesia dapat berperan sebagai suara moral sekaligus mediator terpercaya dalam proses perdamaian Sudan.




Leave a Reply