Penelitian Ungkap Diet Intermittent Dapat Mengubah Aktivitas Otak dan Mikrobioma Usus
Studi Temukan Hubungan Antara Puasa Intermiten, Penurunan Berat Badan, dan Pengendalian Nafsu Makan
Diet intermittent atau intermittent energy restriction (IER) selama ini dikenal sebagai salah satu metode populer untuk membantu menurunkan berat badan. Namun, penelitian terbaru menunjukkan manfaat strategi makan ini tidak hanya berkaitan dengan pengurangan lemak tubuh. Para ilmuwan menemukan bahwa pola makan tersebut juga dapat memengaruhi aktivitas otak serta komposisi bakteri baik yang hidup di dalam usus.
Baca Juga “Ahli gizi jelaskan manfaat dan keterbatasan tren diet 30-30-30“
Temuan tersebut membuka perspektif baru mengenai bagaimana tubuh manusia merespons perubahan pola makan. Penurunan berat badan ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah kalori yang masuk, tetapi juga melibatkan komunikasi kompleks antara otak, sistem pencernaan, dan mikroorganisme yang hidup di dalam tubuh.
Penelitian yang dipublikasikan pada 2023 itu meneliti hubungan antara diet intermittent, aktivitas otak, dan mikrobioma usus pada individu dengan obesitas. Para peneliti menyebut perubahan yang terjadi menunjukkan adanya interaksi kuat dalam poros otak-usus-mikrobioma yang berperan dalam mengatur perilaku makan dan metabolisme tubuh.
Salah satu penulis penelitian, Qiang Zeng dari Institut Manajemen Kesehatan Rumah Sakit Umum PLA di Beijing, menjelaskan bahwa perubahan pada bakteri usus dan aktivitas otak berlangsung secara dinamis selama proses penurunan berat badan. Menurutnya, kedua faktor tersebut saling memengaruhi dan berkembang seiring perubahan kondisi tubuh peserta penelitian.
Untuk memahami mekanisme tersebut, tim peneliti melibatkan 25 orang dewasa dengan obesitas di China. Rata-rata peserta berusia sekitar 27 tahun dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) antara 28 hingga 45. Selama penelitian berlangsung, para peserta menjalani program diet intermittent yang dirancang dan diawasi secara ketat.
Peneliti mengumpulkan berbagai data biologis, termasuk sampel darah, sampel tinja, serta aktivitas otak peserta. Pengamatan aktivitas otak dilakukan menggunakan teknologi functional magnetic resonance imaging (fMRI), yaitu metode pencitraan yang memungkinkan ilmuwan melihat bagian otak yang aktif saat menjalankan fungsi tertentu.
Melalui pemeriksaan tersebut, peneliti memantau area otak yang berkaitan dengan rasa lapar, pengambilan keputusan, emosi, perhatian, pembelajaran, pengendalian diri, dan sistem penghargaan. Wilayah-wilayah ini diketahui memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan makan seseorang.
Program diet dimulai dengan fase pembatasan energi yang lebih ketat selama 32 hari. Pada tahap ini, peserta mengonsumsi makanan yang telah diatur oleh ahli gizi dengan jumlah kalori yang secara bertahap dikurangi hingga mencapai sekitar seperempat kebutuhan energi dasar mereka.
Setelah fase pertama selesai, peserta melanjutkan program dengan pembatasan energi yang lebih ringan selama 30 hari berikutnya. Selama periode tersebut, perempuan mengonsumsi sekitar 500 kalori per hari, sedangkan laki-laki mengonsumsi sekitar 600 kalori per hari sesuai panduan yang telah disusun tim peneliti.
Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan yang cukup signifikan. Rata-rata peserta berhasil menurunkan berat badan sekitar 7,6 kilogram atau hampir 8 persen dari berat badan awal. Selain itu, sejumlah indikator kesehatan metabolik juga mengalami perbaikan.
Kadar gula darah menurun, profil kolesterol membaik, dan tekanan darah menunjukkan tren yang lebih sehat. Temuan ini memperkuat bukti bahwa diet intermittent dapat memberikan manfaat bagi kesehatan metabolisme, terutama pada individu yang mengalami obesitas.
Namun, temuan paling menarik justru muncul dari hasil pemindaian otak. Para peneliti menemukan adanya penurunan aktivitas di beberapa area otak yang selama ini dikaitkan dengan dorongan makan berlebih dan perilaku yang menyerupai kecanduan makanan.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa diet intermittent mungkin membantu seseorang mengendalikan keinginan makan bukan hanya karena berkurangnya asupan kalori, tetapi juga karena adanya penyesuaian pada sistem saraf yang mengatur rasa lapar dan penghargaan.
Dengan kata lain, pola makan tertentu dapat memengaruhi cara otak memproses sinyal yang berkaitan dengan makanan. Hal ini berpotensi menjelaskan mengapa sebagian orang merasa lebih mudah mengendalikan pola makan setelah menjalani diet intermittent dalam jangka waktu tertentu.
Selain perubahan pada otak, para peneliti juga menemukan pergeseran komposisi mikrobioma usus. Beberapa jenis bakteri yang dianggap bermanfaat mengalami peningkatan jumlah selama program berlangsung. Di antaranya adalah Faecalibacterium prausnitzii, Parabacteroides distasonis, dan Bacteroides uniformis.
Sebaliknya, beberapa bakteri yang sebelumnya mendominasi mengalami penurunan populasi. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa pola makan dapat mengubah ekosistem mikroorganisme di dalam usus hanya dalam waktu relatif singkat.
Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian mengenai mikrobioma semakin berkembang. Berbagai studi menunjukkan bahwa bakteri usus tidak hanya berperan dalam proses pencernaan, tetapi juga memengaruhi sistem kekebalan tubuh, metabolisme, kesehatan mental, hingga fungsi otak.
Para ilmuwan percaya bahwa komunikasi antara usus dan otak berlangsung melalui berbagai jalur biologis, termasuk sistem saraf, hormon, dan senyawa kimia yang diproduksi oleh mikroorganisme. Hubungan inilah yang sering disebut sebagai gut-brain axis atau poros usus-otak.
Meski hasil penelitian ini menjanjikan, para ahli menekankan bahwa diet intermittent bukan solusi instan yang cocok untuk semua orang. Efektivitas dan keamanannya dapat berbeda tergantung kondisi kesehatan, usia, aktivitas fisik, serta kebutuhan nutrisi masing-masing individu.
Karena itu, siapa pun yang ingin menjalani pola makan dengan pembatasan waktu atau kalori sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan atau ahli gizi. Pendampingan profesional penting untuk memastikan kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi selama program berlangsung.
Penelitian ini memberikan gambaran bahwa proses penurunan berat badan melibatkan mekanisme yang jauh lebih kompleks daripada sekadar mengurangi kalori. Interaksi antara otak, usus, dan mikrobioma ternyata memiliki peran penting dalam membentuk perilaku makan serta respons tubuh terhadap diet. Ke depan, pemahaman yang lebih mendalam mengenai hubungan tersebut berpotensi membuka strategi baru dalam penanganan obesitas dan berbagai gangguan metabolik lainnya.
Baca Juga “Para dokter memperingatkan terhadap tren diet dan puasa untuk ‘membuat sel kanker kelaparan’.“




Leave a Reply