Aston Martin Peroleh Pendanaan Utang Rp13,2 Triliun di Tengah Tekanan Keuangan
Aston Martin kembali menjadi sorotan setelah memperoleh pendanaan utang baru senilai 550 juta poundsterling atau sekitar Rp13,2 triliun. Pendanaan tersebut hadir di tengah tantangan keuangan yang masih membayangi produsen mobil sport mewah asal Inggris itu, yang sepanjang sejarahnya telah tujuh kali mengajukan kebangkrutan.
Rincian Pendanaan Baru untuk Perkuat Likuiditas
Pendanaan baru tersebut dipimpin oleh HPS Investment Partners dan menjadi bagian dari strategi Aston Martin untuk memperkuat kondisi keuangan sekaligus menjaga kelangsungan pengembangan produk. Paket pembiayaan mencakup pinjaman berjangka dengan jaminan senilai 450 juta poundsterling atau sekitar Rp10,7 triliun.
Selain itu, perusahaan memperoleh fasilitas pinjaman tambahan yang dapat dicairkan di kemudian hari sebesar 100 juta poundsterling atau sekitar Rp2,4 triliun. Aston Martin juga memiliki ruang untuk menambah utang hingga 100 juta poundsterling apabila diperlukan pada masa mendatang.
Manajemen menjelaskan bahwa sebagian besar dana baru akan digunakan untuk memperbaiki struktur pembiayaan perusahaan. Dana sebesar 450 juta poundsterling dialokasikan untuk melunasi fasilitas kredit bergulir super senior senilai 170 juta poundsterling, sekaligus membayar pinjaman 20 juta poundsterling yang sebelumnya ditarik dari fasilitas pinjaman senilai 50 juta poundsterling milik anggota Yew Tree Consortium.
Yew Tree Consortium dipimpin oleh Lawrence Stroll, miliarder asal Kanada yang juga menjadi salah satu pemegang saham utama sekaligus tokoh penting dalam upaya restrukturisasi Aston Martin dalam beberapa tahun terakhir.
baca juga: Gempuran Mobil Listrik China, Pelaku Industri Thailand Tuntut Insentif Pajak
Chief Financial Officer Aston Martin, Doug Lafferty, mengatakan pendanaan baru tersebut memberikan fondasi yang lebih kuat bagi perusahaan untuk menghadapi tantangan bisnis.
“Pendanaan utang baru sebesar 550 juta poundsterling ini secara signifikan memperkuat likuiditas kami, memberikan ketahanan tambahan sekaligus fleksibilitas yang lebih besar untuk menjalankan rencana produk saat ini maupun di masa mendatang,” ujar Lafferty.
Manajemen juga menegaskan bahwa perusahaan menargetkan peningkatan kinerja keuangan dibandingkan tahun sebelumnya. Fokus utama diarahkan pada peningkatan arus kas, perbaikan margin keuntungan, serta optimalisasi penjualan melalui kombinasi model inti dan kendaraan edisi khusus yang memiliki margin lebih tinggi.
Geely Disebut Berpotensi Memperbesar Pengaruh
Pendanaan terbaru muncul beberapa bulan setelah muncul laporan mengenai potensi meningkatnya peran Geely di Aston Martin. Grup otomotif asal China tersebut telah menjadi pemain penting di industri otomotif global melalui kepemilikannya atas sejumlah merek, termasuk Lotus dan London Electric Vehicle Company.
Pendiri sekaligus Chairman Geely, Li Shufu, dikenal memiliki ketertarikan besar terhadap produsen mobil premium asal Inggris. Kondisi valuasi Aston Martin yang terus melemah dinilai membuka peluang bagi Geely untuk memperbesar kepemilikannya apabila situasi memungkinkan.
Nilai pasar Aston Martin saat ini telah turun drastis dibandingkan beberapa tahun lalu. Jika sebelumnya perusahaan pernah memiliki kapitalisasi pasar sekitar 4,3 miliar poundsterling atau sekitar Rp103 triliun, kini nilainya hanya tersisa sekitar sepersepuluh dari angka tersebut.
Penurunan valuasi tersebut mencerminkan tekanan yang masih dihadapi perusahaan, mulai dari tingginya biaya operasional, kebutuhan investasi untuk pengembangan kendaraan baru, hingga transformasi menuju era elektrifikasi yang membutuhkan modal besar.
Meski demikian, Aston Martin tetap berupaya mempertahankan posisinya sebagai salah satu produsen mobil sport mewah paling bergengsi di dunia. Perusahaan berharap restrukturisasi pembiayaan dan peluncuran model-model baru dapat meningkatkan profitabilitas sekaligus memperbaiki kepercayaan investor dalam beberapa tahun mendatang.
baca juga: Aston Martin hadirkan edisi terbatas model Vanquish




Leave a Reply