carguyshub.com – Gaikindo desak pemerintah bertindak cepat menyikapi ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal di sektor otomotif. Desakan ini muncul akibat tren penurunan penjualan kendaraan sejak awal 2025 yang mulai berdampak pada industri komponen nasional.
Ketua I Gaikindo, Jongkie D. Sugiarto, menyampaikan bahwa gejolak ini tak hanya menekan pabrikan mobil, tetapi juga telah memaksa sejumlah perusahaan komponen merumahkan pekerja. Ia menekankan pentingnya langkah cepat pemerintah agar krisis tidak meluas.
“Baca juga : Ikan Sehat untuk Gaya Hidup Penderita Kolesterol dan Asam Urat”
“Justru harus gerak cepat supaya menghindari PHK dan lainnya,” ujar Jongkie saat dihubungi, Senin (8/9).
Gaikindo telah mengusulkan beberapa langkah konkret kepada pemerintah. Salah satunya adalah penerapan kembali insentif Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM DTP) untuk mobil lokal dengan komponen dalam negeri minimal 60 persen. Skema ini sebelumnya terbukti meningkatkan volume penjualan selama pandemi COVID-19.
“Kami sudah usulkan memakai skema PPnBM DTP seperti saat COVID. Terbukti saat itu penjualan dan penerimaan negara meningkat,” ungkap Jongkie.
Meski demikian, Gaikindo mengakui bahwa wewenang penerapan kebijakan tetap berada di tangan pemerintah bersama kementerian terkait.
Gaikindo Desak Pemerintah Atasi PHK dan Lesunya Pasar Otomotif Nasional
Dampak lesunya pasar juga dirasakan industri komponen. Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM), Rachmat Basuki, menyebut PHK di sektor ini telah terjadi sejak pertengahan 2024. Data internal GIAMM menunjukkan pengurangan tenaga kerja mencapai 3–23 persen di berbagai perusahaan anggotanya.
“Berdasarkan info Juli 2025, pengurangan karyawan bervariasi tergantung jenis perusahaan,” jelas Rachmat.
Ia menambahkan, pasar otomotif yang tidak stabil sejak 2023 menyebabkan turunnya pasokan komponen hingga 28 persen per Juli 2025. Selain penurunan permintaan domestik, meningkatnya impor truk CBU dan pertumbuhan kendaraan listrik turut memengaruhi kapasitas produksi industri komponen lokal.
Berdasarkan data Gaikindo, penjualan ritel kendaraan roda empat atau lebih sepanjang Januari–Juli 2025 turun 10,8 persen dibanding periode sama tahun lalu. Penurunan juga terjadi pada penjualan wholesales sebesar 10,1 persen. Penjualan sepeda motor pun menyusut dari 3,76 juta unit menjadi 3,69 juta unit.
Situasi ini memicu kekhawatiran bahwa lapangan kerja di sektor otomotif—yang selama ini menyerap jutaan tenaga kerja langsung maupun tidak langsung—akan terus menyusut. Apalagi, industri otomotif merupakan salah satu sektor strategis dalam perekonomian nasional.
“Baca juga : Cara Menyalip Mobil Matik yang Benar dan Aman di Jalan Raya”
Ke depan, diperlukan respons cepat dan terkoordinasi antara pemerintah, pelaku industri, serta asosiasi terkait. Stimulus fiskal, pengendalian impor, dan dukungan terhadap produksi dalam negeri menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan sektor otomotif Indonesia.




Leave a Reply