carguyshub.com -Ilmuwan di Australia mengembangkan tes darah sederhana untuk mendeteksi sel tumor yang bersirkulasi, membantu memprediksi risiko kambuh kanker kepala dan leher setelah operasi.
Penelitian ini dilakukan oleh tim dari Centenary Institute Australia, yang menganalisis sampel darah pasien pascaoperasi. Mereka menemukan bahwa keberadaan sel tumor yang masuk ke aliran darah berkaitan dengan kemungkinan kekambuhan yang lebih tinggi.
Sel tumor yang bersirkulasi (circulating tumor cells/CTC) berasal dari tumor primer dan dapat menyebar ke organ lain. Deteksi dini CTC memungkinkan dokter menilai risiko pasien secara lebih akurat dan menentukan strategi perawatan tambahan jika diperlukan.
“Analisis sampel darah setelah operasi menunjukkan adanya sel kanker yang terlepas ke aliran darah,” kata pernyataan resmi Centenary Institute. “Keberadaan sel ini terkait dengan peningkatan kemungkinan kekambuhan.”
Tes darah ini dirancang sederhana dan minim invasif, sehingga mudah diterapkan secara rutin. Pendekatan ini memungkinkan pemantauan berkala pasien setelah operasi tanpa prosedur bedah tambahan atau metode pencitraan yang lebih kompleks.
Baca juga:“Mengulas Fitur Privacy Display, Anti-spy Bawaan Samsung S26 Ultra”
Tes Darah Prediktif Bantu Deteksi Risiko Kekambuhan Kanker Kepala dan Leher
Setiap tahun, sekitar 5.500 warga Australia didiagnosis menderita kanker kepala dan leher, yang menyerang lapisan mulut, tenggorokan, dan laring. Meskipun sebagian pasien merespons pengobatan dengan baik, banyak yang mengalami kekambuhan, sering kali tanpa peringatan dini.
Penelitian terbaru yang dipublikasikan di European Journal of Surgical Oncology menyoroti keterbatasan metode pemantauan saat ini. Perawatan lanjutan biasanya mengandalkan pemindaian dan pemeriksaan klinis, yang tidak selalu mampu mendeteksi risiko kekambuhan secara dini.
Jonathan Clark, direktur Riset Kanker Kepala dan Leher di Chris O’Brien Lifehouse Australia dan penulis senior studi tersebut, menjelaskan bahwa deteksi awal sangat penting untuk meningkatkan peluang keberhasilan terapi. Ia menekankan perlunya metode baru untuk memprediksi kambuh lebih cepat.
Kolaborasi antara Chris O’Brien Lifehouse dan Centenary Institute Australia menghasilkan tes darah sederhana yang mendeteksi sel tumor yang bersirkulasi (CTC) dalam aliran darah. Hasil analisis menunjukkan bahwa keberadaan sel ini berkorelasi dengan risiko kekambuhan yang lebih tinggi.
Sel Tumor Sirkulasi Bantu Identifikasi Pasien Risiko Tinggi Kanker
Peneliti Australia menemukan bahwa deteksi sel tumor yang bersirkulasi (circulating tumor cells/CTC) dapat membantu mengidentifikasi pasien kanker kepala dan leher berisiko tinggi kambuh.
Dannel Yeo, kepala laboratorium di Center for Cancer Innovations dan penulis utama studi, mengatakan, “Temuan kami menunjukkan bahwa mendeteksi sel tumor yang bersirkulasi memberikan informasi tambahan untuk mengidentifikasi pasien yang mungkin memerlukan pemantauan lebih ketat setelah operasi.”
Studi ini menekankan peran biomarker berbasis darah dalam mendukung perawatan kanker yang lebih terpersonalisasi. Keberadaan CTC dalam aliran darah memberi sinyal risiko kambuh yang tidak selalu terdeteksi melalui pemindaian konvensional atau pemeriksaan klinis.
Tes darah ini dikembangkan oleh tim peneliti di Centenary Institute Australia dan laboratorium Center for Cancer Innovations. Metode ini sederhana, minim invasif, dan memungkinkan pemantauan rutin pascaoperasi.
Selain memprediksi risiko kambuh, penanda biologis ini membantu dokter menentukan strategi perawatan tambahan. Pasien berisiko tinggi bisa mendapatkan intervensi lebih awal, sementara pasien berisiko rendah dapat menghindari perawatan berlebihan.
Para ilmuwan menyatakan bahwa temuan ini menambah bukti yang kian berkembang mengenai pentingnya biomarker berbasis darah dalam pengobatan kanker modern. Pendekatan ini memungkinkan terapi yang lebih tepat dan responsif terhadap kondisi individual pasien.
Baca juga:“Ekraf x Garena Pamerkan Game Lokal di Bazar Imlek Nasional 2026”




Leave a Reply