carguyshub.com -Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menekankan perlunya meningkatkan keterlibatan perempuan di sektor teknologi dan sains. Langkah ini dinilai krusial untuk memenuhi kebutuhan talenta digital Indonesia dalam menghadapi pertumbuhan ekonomi digital.
Menurut Meutya, Indonesia diproyeksikan membutuhkan 12 juta talenta digital pada 2030. Tantangannya bukan hanya kuantitas, tetapi juga memastikan akses yang setara bagi anak perempuan untuk berpartisipasi dan berkembang. Kekurangan partisipasi perempuan di sektor ini sering disebut fenomena leaky pipeline, yang mengurangi jumlah perempuan yang bertahan dalam karier teknologi.
Dalam acara AWS Girls’ Tech Day di Bekasi, Sabtu (7/2), Meutya menekankan bahwa pemberdayaan perempuan dalam teknologi harus dimulai sejak pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. “Akses, bimbingan, dan dukungan berkelanjutan akan mendorong lebih banyak perempuan mengejar karier di teknologi,” ujarnya.
Ia juga menekankan peran pemerintah, industri, dan lembaga pendidikan dalam menciptakan lingkungan yang inklusif. Dukungan ini termasuk program pelatihan, mentorship, dan peluang magang untuk mempersiapkan perempuan mengisi kebutuhan talenta digital nasional.
Baca juga:“Kemkomdigi Rilis 13 Seri Prangko untuk Merawat Sejarah dan Budaya Indonesia”
MENKOMDIGI SOROT KESENJANGAN GENDER DI BIDANG TEKNOLOGI DAN STEM
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menyoroti rendahnya partisipasi perempuan di sektor teknologi, khususnya di bidang AI dan engineering. Saat ini, perempuan hanya menduduki sekitar 15 hingga 18 persen posisi teknis mendalam di Indonesia. Meutya menekankan pentingnya mengubah akses digital menjadi keterampilan konkret dan peluang kerja nyata.
Ia mengungkapkan, sejumlah faktor masih menghambat perempuan menekuni sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM). Hambatan tersebut meliputi stereotip gender, kurangnya rasa aman, serta minimnya panutan yang dapat menjadi inspirasi karier. “Kita perlu memastikan lingkungan belajar dan kerja yang aman, inklusif, serta menyediakan figur inspiratif bagi perempuan muda,” ujarnya.
Fenomena ini berkontribusi pada leaky pipeline, di mana perempuan yang awalnya tertarik di STEM akhirnya meninggalkan bidang ini sebelum berkarier secara profesional. Padahal, keterlibatan perempuan secara penuh di STEM terbukti meningkatkan inovasi, produktivitas, dan keberlanjutan ekosistem digital.
Dalam upaya mengatasi kesenjangan gender, Meutya mendorong kolaborasi antara pemerintah, industri, dan lembaga pendidikan. Strategi ini mencakup program mentorship, pelatihan keterampilan digital, serta kesempatan magang yang menyiapkan perempuan untuk mengisi posisi teknis yang strategis.
PEMERINTAH DORONG PEREMPUAN KUASAI TEKNOLOGI MELALUI PROGRAM EDUKASI DAN TALENTA
Pemerintah Indonesia berupaya meningkatkan partisipasi perempuan di bidang sains dan teknologi dengan membuka akses pengetahuan dan menciptakan ekosistem digital yang aman serta inklusif.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Kominfo) mendorong pengembangan talenta digital perempuan melalui kolaborasi dengan pelaku industri. Langkah ini bertujuan meningkatkan kapasitas dan keterampilan perempuan agar siap mengisi kebutuhan sektor teknologi yang terus berkembang.
Menkomdigi Meutya Hafid memberikan apresiasi atas pelaksanaan Program AWS Girls’ Tech Day, yang diikuti 400 siswi dari tingkat sekolah dasar hingga menengah atas. Acara ini memperkenalkan peserta pada kecerdasan artifisial, koding, dan robotika, sekaligus membangun minat mereka dalam karier di bidang STEM.
Program ini menjadi contoh nyata bagaimana pengalaman praktis dan edukasi berbasis teknologi dapat menumbuhkan keterampilan yang relevan. Peserta tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik langsung yang mendorong kreativitas dan inovasi.
Selain itu, pemerintah mendorong terciptanya panutan perempuan di bidang teknologi, untuk mengurangi hambatan seperti stereotip gender dan rasa tidak aman yang kerap menghalangi keterlibatan perempuan dalam STEM.
Data pemerintah menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan di posisi teknis mendalam masih rendah, berkisar 15-18 persen. Oleh karena itu, program edukasi dan kolaborasi industri menjadi kunci untuk meningkatkan partisipasi secara signifikan.
Baca juga:“Oppo Watch S Hadirkan Fitur Pemantau Kebugaran dan Kesehatan”




Leave a Reply