- carguyshub – Piotr Suwalski, seorang dokter asal Polandia, duduk di unit kendali sebuah rumah sakit di Provinsi Sichuan, China barat daya. Ia memusatkan perhatian pada layar sambil mengendalikan robot bedah yang berjarak lebih dari 7.000 km di Polandia. Sekitar dua jam kemudian, operasi tersebut berhasil diselesaikan. Keberhasilan ini meningkatkan keyakinan sang dokter untuk mempromosikan teknologi ini di negara asalnya.
Suwalski menjabat sebagai direktur Institut Medis Nasional di bawah Kementerian Dalam Negeri dan Administrasi Polandia. Ia menyatakan bahwa bidang pembedahannya sangat jelas selama prosedur berlangsung. Pasien mengalami lebih sedikit pendarahan dibandingkan dengan prosedur torakotomi tradisional. Teknologi robotik jarak jauh membuktikan keunggulannya dalam operasi ini.
Operasi tersebut merupakan satu dari tujuh prosedur jarak jauh yang berhasil dilakukan bulan ini. Pusat robotik jarak jauh internasional di Rumah Sakit China Barat Universitas Sichuan menjadi lokasi pelaksanaan. Rumah sakit ini berlokasi di Chengdu, ibu kota Provinsi Sichuan. Pusat tersebut diresmikan pada 21 Maret lalu.
Pusat robotik ini dimaksudkan menjadi platform bedah pintar internasional. Layanan medis bergeser dari mendatangkan pasien menjadi mengirimkan teknologi. Inovasi ini memungkinkan ahli bedah dari berbagai negara beroperasi tanpa harus bepergian. Efisiensi dan akses layanan kesehatan pun meningkat secara signifikan.
Wu Hong, pakar transplantasi hati sekaligus wakil presiden rumah sakit, menyatakan pendirian pusat ini membawa manfaat medis nyata bagi pasien. Teknologi jarak jauh mengurangi risiko perjalanan pasien ke pusat layanan. Ahli bedah terbaik di dunia dapat diakses tanpa batasan geografis. Keberhasilan operasi ini menjadi tonggak baru dalam dunia medis global. Kolaborasi lintas negara dalam bidang kesehatan semakin terbuka lebar.
“Baca Juga : Xiaomi Rekrut Eks GM Tesla Pimpin Penjualan“
Robot Bedah China Tembus Pasar Global, Ekspor Melonjak 368% pada 2025
Pusat robotik jarak jauh di Chengdu memungkinkan pasien menjalani operasi di kota asal mereka. “Ketimbang melakukan perjalanan ke Chengdu untuk menjalani operasi, pasien dan keluarga mereka kini dapat menjalani operasi dengan bantuan robot di kota asal mereka,” kata Wu Hong, wakil presiden Rumah Sakit China Barat. Pengurangan beban finansial dan waktu mencapai hingga 80 persen. Tim profesional dengan spesialis bedah, ahli anestesia, dan teknisi jaringan beroperasi dalam mekanisme respons darurat 24 jam.
Dokter asal Brasil, Carlos Eduardo Domene, juga melakukan operasi dari pusat tersebut. Pasien yang dioperasi berada lebih dari 10.000 km jauhnya di Brasil. Domene menjabat sebagai presiden Asosiasi Robotika Brasil. Ia mengagumi performa perangkat berdefinisi ultratinggi dan berlatensi nol. “Teknologi dan peralatan medis kelas atas China kini diperkenalkan di Brasil melalui Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra,” tambah Domene.
Tahun 2026 menandai tonggak penting bagi industri robot bedah China. Pemerintah merilis pedoman pertama terkait penetapan harga untuk layanan ini. Pertumbuhan yang teregulasi didorong oleh dukungan kebijakan dan permintaan pasar yang meningkat. Ekspor robot bedah China melonjak 368,1 persen secara tahunan pada 2025. Data ini berasal dari Kamar Dagang China untuk Impor dan Ekspor Obat-obatan dan Produk Kesehatan.
Pengakuan global terhadap peralatan medis buatan China terus meningkat. Kemampuan teknologi dan daya saing internasional menjadi faktor utama. Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra mempercepat ekspansi ke pasar luar negeri. Ekspor peralatan medis China mencapai total 45,8 miliar dolar AS pada 2025. Angka ini naik 62,4 persen dibandingkan tahun 2019.
Asosiasi Peralatan Medis China mencatat pergeseran signifikan dalam industri ini. Sektor peralatan medis China beralih dari keunggulan biaya menjadi keunggulan teknologi dan kekuatan merek. Robot bedah buatan China kini menarik perhatian global. Kolaborasi lintas negara dalam bidang kesehatan semakin erat. Pasien di berbagai belahan dunia mendapat akses layanan medis berkualitas tanpa batasan geografis.
China Perkuat Posisi di Pasar Robot Bedah Global, Rencanakan Pusat Kendali di Mesir
Konferensi robot bedah internasional digelar di Chengdu pada akhir Maret. Lebih dari 700 pakar dan akademisi dari Amerika Utara, Eropa, dan Asia hadir membahas inovasi teknologi robot bedah. Rumah Sakit China Barat Universitas Sichuan menjadi tuan rumah acara tersebut. Peresmian pusat robotika jarak jauh internasional rumah sakit ini terus mendorong perkembangan inovatif teknologi robot bedah.
Luo Fengming, presiden rumah sakit, menyampaikan hal ini dalam konferensi tersebut. Rumah sakit berencana mendirikan pusat kendali jarak jauh untuk robot bedah di Mesir. Rencana ini akan direalisasikan pada Juli mendatang. Pusat ini mendukung pengadopsian lokal teknologi robot bedah. Para dokter di Mesir dapat meningkatkan kemampuan mereka di bidang tersebut.
Luo meyakini upaya ke depan harus fokus pada peningkatan jaringan bedah jarak jauh. Eksplorasi lanjutan dalam inovasi teknologi, penerapan klinis, dan pelatihan talenta juga menjadi prioritas. “Melalui kerja sama internasional yang lebih erat, kami akan bersama-sama berupaya meningkatkan robot bedah menjadi teknologi yang lebih presisi, cerdas, dan mudah diakses,” ujar Luo.
Ekspor robot bedah China melonjak 368,1 persen secara tahunan pada 2025. Pengakuan global terhadap peralatan medis buatan China terus meningkat. Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra mempercepat ekspansi ke pasar luar negeri. Total ekspor peralatan medis China mencapai 45,8 miliar dolar AS pada 2025, naik 62,4 persen dibanding 2019.
Pusat kendali jarak jauh di Mesir menjadi langkah ekspansi terbaru China. Kolaborasi lintas negara dalam teknologi robot bedah semakin erat. Pasien di berbagai belahan dunia mendapat akses layanan medis berkualitas. Industri robot bedah China terus bertransformasi dari keunggulan biaya menjadi keunggulan teknologi. Dengan dukungan kebijakan dan permintaan pasar, masa depan teknologi ini semakin cerah.
“Baca Juga : Teknologi Canggih Tampil di Kawasan Baru Xiong’an, China“




Leave a Reply