- carguyshub – Perjalanan ekspedisi mewah bertajuk Atlantic Odyssey yang diimpikan sejak 39 hari lalu berubah menjadi mimpi buruk. Kapal pesiar MV Hondius, yang berangkat dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April 2026, kini dilanda wabah hantavirus yang mematikan . Dari 149 penumpang dan awak dari 23 negara, tiga orang tewas dan sejumlah lainnya terinfeksi .
Awal Mula Mimpi Buruk di Tengah Atlantik
Suasana penuh antusiasme menyelimuti para penumpang saat meninggalkan ujung paling selatan Amerika Selatan. Mereka membayangkan petualangan sekali seumur hidup menikmati panorama gunung es, penguin, paus, dan albatros .
Namun, pada 6 April, seorang pria Belanda berusia 70 tahun mulai menunjukkan gejala mirip flu . Lima hari kemudian, ia meninggal di kapal karena gagal napas mendadak. Kapten sempat mengatakan kasus itu terisolasi, tetapi wabah justru meluas .
Virus Andes: Menular Antar Manusia di Ruang Sempit
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi wabah itu adalah virus Andes, strain hantavirus langka yang bisa menular antarmanusia dalam kontak dekat . Kondisi sempit di kapal memudahkan penyebaran.
Infeksi berkembang menjadi Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), penyakit pernapasan parah dengan tingkat kematian mendekati 40 persen . Total delapan infeksi dikonfirmasi, termasuk tiga kematian .
Kapal Terkatung-katung, Otoritas Global Bergerak
Selama perjalanan, kapal sempat ditolak merapat di Tanjung Verde karena kekhawatiran wabah . Pasien kritis dievakuasi menggunakan ambulans udara ke Afrika Selatan dan Belanda .
Kabar duka terus berdatangan. Istri pria Belanda yang tewas, yang turun di Saint Helena, jatuh sakit di bandara Johannesburg dan kemudian meninggal .
Kepulauan Canary Jadi Lokasi Evakuasi Darurat
Setelah menolak beberapa pelabuhan, Spanyol mengizinkan MV Hondius merapat di Kepulauan Canary dengan protokol kesehatan ketat . Unit Darurat Militer (UME) menggunakan APD lengkap dan metode fondeo (kapal tidak bersandar penuh) untuk memutus kontak dengan penduduk lokal .
Penumpang yang asimptomatik (tanpa gejala) turun dengan perahu kecil menuju terminal . Mereka kemudian langsung dipulangkan menggunakan pesawat medis ke negara masing-masing .
Ketakutan Penumpang dan Jaminan WHO
Para penumpang asal Spanyol mengaku takut dikucilkan dan dicap sebagai “pembawa virus” saat kembali ke daratan setelah melihat meme dan berita sensasional di media sosial .
Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus memberikan jaminan langsung: “Ini bukan COVID baru. Risiko kesehatan publik saat ini dari hantavirus masih rendah” . Ia juga memastikan tidak ada penumpang bergejala yang tersisa di kapal .
Penumpang asal Amerika Serikat akan dikarantina di Nebraska , sementara warga Spanyol dikarantina 45 hari di rumah sakit Madrid . Kontak erat diminta memantau gejala hingga enam pekan karena masa inkubasi virus bisa mencapai 42 hari .
“Baca Juga : Apple Mungkin Pasok Chip dari Intel untuk iPhone & Mac“
Kapal Pesiar MV Hondius Dihantam Wabah Hantavirus Andes, 3 Tewas & Karantina Massal
Suasana perjalanan ekspedisi mewah selama 39 hari dari ujung selatan Amerika Selatan menuju Samudra Atlantik berubah drastis menjadi mimpi buruk. Kapal pesiar MV Hondius yang membawa 149 penumpang dan awak dari 23 negara kini menjadi episentrum wabah Hantavirus Andes (Andes virus), varian langka dan mematikan yang berbeda dari hantavirus biasa karena dapat menular antar manusia .
Kedekatan antarpenumpang yang terbentuk secara alami selama pelayaran panjang justru diduga menjadi faktor utama akselerasi penyebaran virus ini. Hingga kini, tiga orang dilaporkan tewas. Sedikitnya lima orang lainnya, kemungkinan enam orang, termasuk tiga warga Inggris, dikonfirmasi terinfeksi.
🦠 Virus Andes: Si Maut dengan Tingkat Kematian 40%
Tidak seperti kebanyakan hantavirus yang hanya menular dari hewan pengerat ke manusia, virus Andes (Orthohantavirus andesense) yang diidentifikasi di kapal ini memiliki karakteristik unik sekaligus mengerikan: ia dapat menyebar melalui kontak antarmanusia . Hantavirus Andes diketahui menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang tergolong paling parah dengan tingkat kematian (CFR) mencapai 40-50% .
🚨 Situasi Terkini di Laut
Virus yang masa inkubasinya bisa mencapai 6 minggu ini menyebabkan situasi krisis diplomatik di laut. Kapal pesiar yang sebelumnya sudah ditolak berlabuh di Tanjung Verde karena kekhawatiran wabah, kini bersiap berlabuh di Tenerife, Spanyol. Otoritas kesehatan internasional kini melacak siapa pun yang sempat melakukan kontak dengan para penumpang di sejumlah titik perjalanan untuk mencegah klaster sekunder.
Gejala awal hantavirus sangat mirip dengan flu biasa (demam, nyeri otot, mual), sehingga sering terlambat ditangani . Saat memasuki fase lanjut, infeksi Andes akan menyerang paru-paru (HPS), menyebabkan sesak napas hebat, edema paru, dan syok kardiogenik. Tidak ada vaksin atau antivirus spesifik untuk hantavirus; pasien hanya bisa mendapatkan perawatan suportif seperti oksigen dan bantuan pernapasan (ventilator) . Namun, karena Andes bisa menular antar manusia, risiko bagi petugas medis dan kontak erat juga meningkat signifikan.
Penumpang Kapal Pesiar Ungkap Suasana Duka Sebelum Wabah Hantavirus Diungkap
Ruhi Cenet, seorang pembuat film sekaligus ayah dua anak yang menjadi salah satu penumpang kapal pesiar MV Hondius, mengungkapkan suasana duka yang sempat menyelimuti kapal. Suasana gelap itu muncul setelah kapten kapal mengumumkan kematian salah satu penumpang di tengah perjalanan ekspedisi Atlantic Odyssey.
“Dia mengatakan bahwa itu adalah tugasnya yang menyedihkan untuk memberi tahu kami bahwa seorang penumpang telah meninggal dunia malam sebelumnya,” ujar Ruhi.
❓ Kapten Klaim Kematian Alami, Penumpang Lain Merasa Ada keanehan
Pada saat pengumuman awal, kapten kapal menyebut korban meninggal karena penyebab alami dan memastikan bahwa situasi di kapal tetap aman serta tidak menular. Penumpang pun melanjutkan pelayaran dengan rasa penasaran dan sedikit was-was, tetapi tidak ada kepanikan besar.
Namun, Ruhi Cenet mulai menyadari ada yang tidak beres ketika proses turun dari kapal berlangsung. Ia memperhatikan secara langsung kondisi istri dari penumpang pertama yang meninggal (seorang pria Belanda berusia 70 tahun) yang turun bersamanya di Saint Helena pada 24 April.
🏝️ Perjalanan Terhenti di Saint Helena
Perjalanan Atlantic Odyssey sejatinya hampir menyelesaikan tahap pertama pelayarannya saat kapal dijadwalkan tiba di Saint Helena pada 24 April 2026. Sebanyak 30 penumpang dari 12 negara direncanakan turun di pulau terpencil di tengah Atlantik tersebut untuk melanjutkan perjalanan pulang dengan pesawat.
Ruhi Cenet menjadi salah satu penumpang yang turun dari kapal saat itu, termasuk istri dari penumpang pertama yang meninggal dunia. Namun, Ruhi mengaku mulai menyadari ada yang tidak beres dengan kondisi perempuan tersebut ketika proses turun dari kapal berlangsung, karena ia terlihat sudah sangat lemah dan sakit.
⏳ Keterlambatan Diagnosis dan Penyebaran
Keputusan kapten yang mengklaim kematian “wajar” dan mengizinkan kontak erat terus terjadi menjadi titik kritis. Virus Andes memiliki masa inkubasi hingga 6 minggu, sehingga ketika perempuan tersebut (istri korban) kemudian jatuh sakit dan meninggal di bandara Johannesburg beberapa hari kemudian , baru diketahui bahwa penyebabnya bukan flu biasa, melainkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang sangat mematikan. Keterlambatan diagnosis inilah yang diduga memperparah wabah di kapal.
Peristiwa ini menjadi salah satu wabah hantavirus antarmanusia (human-to-human) terbesar yang pernah tercatat di lingkungan non-klinis, karena terjadi dalam ruang tertutup kapal pesiar selama berminggu-minggu. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) saat ini sedang melacak 30 penumpang yang turun di Saint Helena untuk menjalani karantina.
“Baca Juga : Meta Ungkap Penyebab Followers Instagram Menurun”




Leave a Reply